Di tangan Loper Koran, Berita Pernah Berjalan Kaki

Oleh: Baharudin Hamzah
Anggota KPU Provinsi Nusa Tenggara Timur. 


Setiap Hari Pers Nasional tiba, ingatan saya selalu berbelok ke satu sosok yang kini hilang dari pandangan mata,   kian jarang disebut dalam sejarah pers, loper koran. 

Ia bukan penulis berita, bukan editor, bukan pemilik media. Namun tanpanya, berita tak pernah benar-benar sampai. 

Di masa pasca kemerdekaan hingga era reformasi, loper koran adalah urat nadi sunyi penyebaran informasi. 

Sejak subuh, bahkan sebelum kota sepenuhnya terjaga, mereka sudah menunggu di pintu percetakan menjemput berita yang masih hangat dari mesin cetak, lalu membawanya menuju tangan para pembaca.

Di tengah dunia yang serba cepat dan berisik, ingatan tentang loper koran mengingatkan kita bahwa pers pernah tumbuh dari kesabaran, ketekunan, dan tanggung jawab moral. 

Bahwa informasi tidak sekadar disebarkan, tetapi dipertanggungjawabkan. Loper koran adalah salah satu profesi tertua dalam ekosistem pers modern. 

Ia lahir bersamaan dengan kebutuhan dasar manusia untuk mendapatkan kabar, jauh sebelum teknologi memungkinkan informasi berpindah tanpa tubuh dan langkah kaki.

Secara historis, profesi loper koran muncul pada abad ke-19 di kota-kota besar Eropa dan Amerika Serikat, seiring berkembangnya mesin cetak dan surat kabar harian. 

Ketika koran mulai diproduksi massal, dibutuhkan perantara untuk menjembatani percetakan dan pembaca. 

Di situlah loper hadir, anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, menjual koran di jalanan, stasiun, pasar, dan pusat keramaian.

Mereka bukan sekadar penjual, tetapi penyebar berita pertama di ruang publik.

Judul-judul besar diteriakkan di sudut kota, menjadikan jalanan sebagai ruang awal diskursus publik.

Di Indonesia, loper koran mulai dikenal sejak masa kolonial, bersamaan dengan terbitnya surat kabar berbahasa Belanda, Melayu, dan kemudian Indonesia.

Pada masa itu, loper memainkan peran penting dalam menyebarkan ide-ide kebangsaan, perlawanan, dan kesadaran politik. Pasca kemerdekaan, loper koran menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kota. 

Koran-koran nasional dan daerah hidup dari jaringan loper yang menjajakan berita dari subuh hingga siang hari, di pasar, stasiun, simpang jalan, hingga kantor pemerintahan. 

Pada masa orde baru hingga reformasi, loper koran mencapai puncak perannya. Di tengah keterbatasan saluran informasi, koran menjadi rujukan utama publik. Dan loper adalah urat nadi distribusi. 

Mereka mengantar koran langganan dari rumah ke rumah, menjual koran eceran di lampu merah dan emperan toko, sekaligus menjadi penentu oplah dan keberlanjutan ekonomi media.

Peran loper tidak berhenti pada penyebaran informasi. Pada masa itu, mereka juga menjadi penentu asap dapur redaksi. 

Dari tangan merekalah koran terjual, baik eceran maupun langganan bulanan. 
Dari hitungan oplah yang mereka serap di jalanan, redaksi tahu apakah koran hari itu diterima publik atau tidak. 

Loper berkontribusi langsung secara ekonomis. Mereka adalah mata rantai terakhir sekaligus penentu keberlanjutan. 

Apakah koran esok hari dicetak lagi atau tidak, sering kali bergantung pada seberapa banyak koran hari ini berpindah dari tangan loper ke tangan pembaca. Dalam arti tertentu, loper adalah penjaga hidup mati media cetak. 

Dalam konteks demokrasi, loper berperan sebagai jembatan ruang publik. Mereka memastikan informasi sampai ke warga, membuka ruang diskusi, dan memperluas literasi politik. 

Dalam istilah Jurgen Habermas, loper membantu menghidupkan ruang publik deliberatif, ruang di mana warga dapat berdiskusi berdasarkan informasi yang sama dan dipercaya.

Loper koran bukan sekadar pekerjaan, tetapi tangga sosial. Kebanyakan dari mereka berjalan kaki. Langkahnya pelan tapi pasti, menyusuri trotoar kota yang masih lengang. 

Sebagian lain mengayuh sepeda ontel, mengantar koran langganan dari rumah ke rumah, dari kantor ke kantor bunyi rantainya menjadi penanda pagi yang setia. 

Ada pula yang menggunakan sepeda motor, tetapi jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari pada masa itu, kecepatan belum menjadi tujuan utama, yang lebih penting adalah ketekunan.

Mereka menjajakan koran di emperan toko, di simpang lampu merah, di depan kantor-kantor pemerintahan dan perbankan. 

Tak jarang, mereka menjadi editor pertama bagi publik, karena dari teriakan judul berita itulah orang tahu, hari ini negara sedang baik-baik saja atau sedang gaduh. 

Pada masa itu, membaca koran adalah ritus pagi. Jika tak berlangganan, maka tempat pertama yang dicari bukan mesin pencari, melainkan simpang lampu merah atau halaman kantor bank. Di sanalah informasi menunggu, dilipat rapi, kadang masih berbau tinta.

Saya mengalami masa itu, ketika menjadi wartawan pada rentang 1999–2008, satu-satunya penyebar informasi koran adalah para loper. 

Tak ada notifikasi, tak ada linimasa. Berita bergerak perlahan, tetapi pasti dan loperlah yang memindahkannya dari ruang percetakan ke ruang-ruang kesadaran publik. 

Sebagai mahasiswa, saya pernah tinggal di Jalan Thamrin, Kota Kupang. Sepanjang jalan itu, banyak mahasiswa, pelajar, anak-anak Flores  dan masyarakat urban menggantungkan hidup dari profesi ini.  

Yang merantau untuk kuliah, kebanyakan adalah loper  koran sekaligus penjual eceran dan masyarakat urban menggantungkan hidup dari profesi ini. 

Setiap pagi mereka nongkrong di pintu lobi dan halaman bank-bank pemerintah. 

Di perempatan lampu merah, di kantor pemerintahan. Dari pekerjaan itulah, banyak di antara mereka yang sukses di dunia kerja hari ini, menyelesaikan studi sarjananya, membiayai hidup, kos, dan buku dari lembaran-lembaran berita yang mereka antar. 

Loper koran juga bukan sekadar penjual. Mereka adalah pekerja pengetahuan dari kelas paling bawah, yang kerap luput dari catatan sejarah pers. 

Padahal, merekalah yang memastikan demokrasi punya bahan bakar, informasi. Kini zaman berubah. Teknologi digital menggeser hampir seluruh sendi kerja jurnalistik. 

Berita tak lagi menunggu dicetak. Peristiwa bahkan sudah “terlampau telat” ketika terbit di koran cetak, karena lebih dulu hadir di layar gawai, detik demi detik. Pada masa itu pula, koran menjadi rujukan utama publik. 

Ia dipercaya, dibaca perlahan, dan dijadikan dasar percakapan. Bahkan, kebijakan negara kerap lahir dari percakapan publik yang dimulai di halaman koran.

Pada masa itu, membaca koran adalah ritus pagi. Jika tak berlangganan, tempat pertama yang dicari bukan mesin pencari, melainkan simpang lampu merah atau halaman bank. 

Di sanalah informasi menunggu dilipat rapi, kadang masih berbau tinta. Dalam kerangka Jurgen Habermas, koran menjalankan fungsi penting sebagai ruang publik deliberatif, ruang tempat warga berdiskusi secara rasional, setara, dan berorientasi pada kepentingan bersama. 

Informasi yang beredar bukan sekadar cepat, tetapi telah melalui proses seleksi, verifikasi, dan tanggung jawab editorial, sehingga memungkinkan publik menimbang sebelum menyimpulkan.

Kini, ruang publik itu berubah bentuk. Teknologi digital membuat informasi hadir lebih cepat dari jeda berpikir. Memejamkan mata sedetik saja, ratusan informasi baru muncul.

Kita hidup dalam kelimpahan informasi, tetapi sering kekurangan kepercayaan dan kedalaman dialog. 

Masalahnya bukan semata benar atau salah. Sebagaimana diingatkan Habermas, ketika ruang publik dikuasai oleh logika kecepatan, emosi, dan popularitas, deliberasi rasional terdesak ke pinggir. Informasi beredar, tetapi percakapan bernalar makin menyempit.

Di sinilah Hari Pers Nasional 2026 yang mengusung tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat” menemukan maknanya. 

Ia bukan sekadar perayaan, melainkan ajakan untuk mengingat kembali bahwa pers pernah hidup dari kesabaran, ketekunan, dan tanggung jawab, bukan hanya redaksi, tetapi juga loper koran di jalanan. Hari ini, kita semua telah menjadi loper. 

Dengan satu sentuhan jari, kita menyebarkan informasi. Maka tanggung jawab itu kini berpindah ke tangan kita, apakah informasi yang kita sebar memperkaya ruang publik, atau justru menggerusnya.

Apa yang kita alami hari ini, banjir informasi, kecepatan ekstrem, dan perubahan cara membaca, sesungguhnya bukan sesuatu yang datang tiba-tiba.

Jauh sebelumnya, Alvin Toffler telah memprediksinya dalam Future Shock dan The Third Wave, yang kemudian dipopulerkan kembali dalam wacana mega trend menuju tahun 2000-an. 

Toffler mengingatkan bahwa manusia akan mengalami guncangan ketika perubahan sosial dan teknologi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk beradaptasi. 

Apa yang disebut Toffler sebagai future shock itulah yang kini kita rasakan dalam dunia pers. 

Informasi datang terlalu cepat, berganti terlalu sering, dan kerap melampaui kemampuan kita untuk mencerna secara kritis.

Pada masa lalu, koran menjadi rujukan utama publik. Ia dipercaya, dibaca perlahan, dan dijadikan dasar percakapan. Bahkan, kebijakan negara kerap lahir dari apa yang diperdebatkan di halaman-halaman koran. 

Dalam kerangka Jurgen Habermas, situasi itu mencerminkan bekerjanya ruang publik deliberatif, ruang di mana warga berdiskusi secara rasional, setara, dan berorientasi pada kepentingan bersama. 

Koran menyediakan bahan percakapan publik yang telah disaring, diverifikasi, dan dipertanggungjawabkan.

Hari ini, kita semua telah menjadi loper. Dengan satu sentuhan jari, kita menyebarkan informasi. 

Maka tanggung jawab itu kini berpindah ke tangan kita, apakah informasi yang kita sebar memperkaya ruang publik deliberatif, atau justru memperdalam gegar masa depan yang pernah diperingatkan Toffler. 

Mari menjadi loper koran zaman baru yang menyebarkan informasi yang aktual, akurat, dan dapat dipercaya yang menjaga nalar publik yang setia pada kepentingan bersama. 

Sebab demokrasi tidak tumbuh dari kecepatan semata, melainkan dari percakapan yang jujur, rasional, dan bertanggung jawab. Dan di tangan loper dulu di jalanan, kini di ruang digital di sanalah masa depan ruang publik dipertaruhkan.

Tantangan pers saat ini memang berbeda, hoaks, disinformasi, algoritma, dan kelelahan informasi. Namun nilai yang diwariskan para loper tetap relevan, bahwa informasi adalah amanah, bahwa berita harus sampai, dan bahwa di balik setiap kabar, selalu ada kerja manusia. 

Hari Pers Nasional bukan hanya tentang redaksi dan ruang siar. Ia juga tentang jalanan pagi, suara koran yang dibuka, dan tangan-tangan kasar yang dulu setia mengantar berita. 

Di tangan loper, berita pernah berjalan kaki. Dan dari langkah-langkah itulah, kesadaran publik tumbuh perlahan, tapi berakar. 

Hari ini, membaca koran tak lagi menunggu loper. Begitu mata terbuka, gawai di genggaman telah menumpahkan dunia, berita, peristiwa, opini, semuanya hadir serentak. 

Dunia benar-benar dalam genggaman. Namun justru di titik itulah, ada sesuatu yang pelan-pelan hilang. 

Kini, ruang publik itu berubah bentuk. Teknologi digital menciptakan ruang komunikasi yang luas, cepat, dan nyaris tanpa batas. 

Informasi mengalir deras, berganti dalam hitungan detik. Kita hidup dalam kelimpahan informasi.

Peran loper pun perlahan menghilang. Tak lagi dibutuhkan untuk memindahkan berita secara fisik, karena informasi kini bergerak melalui sinyal, bukan langkah kaki. Cepat, instan, dan sering kali tanpa jeda untuk merenung. 

Namun di titik inilah Hari Pers Nasional seharusnya menjadi ruang refleksi, bukan sekadar perayaan. Bahwa dalam sejarah pers Indonesia, ada fase ketika informasi disebarkan oleh manusia-manusia yang bekerja dalam senyap. 

Mereka yang tak menulis satu kata pun, tetapi ikut menentukan apa yang dibaca publik setiap pagi.

Meski profesinya memudar, nilai yang diwariskan loper koran tetap relevan. Ketekunan, tanggung jawab informasi, kesadaran bahwa berita bukan sekadar cepat, tetapi harus sampai dan dipercaya. 

Mari menjadi loper koran zaman baru yang menyebarkan informasi yang aktual, akurat, dan dapat dipercaya yang menjaga nalar publik, yang setia pada kepentingan bersama. 

Sebab demokrasi tidak tumbuh dari kebisingan, melainkan dari percakapan yang jujur dan bertanggung jawab. Dan di tangan loper, dulu di jalanan, kini di ruang digital di sanalah masa depan ruang publik dipertaruhkan. 

Hari ini, ketika setiap orang bisa menjadi penyebar informasi, sejarah loper koran mengingatkan kita bahwa menyebarkan berita selalu mengandung tanggung jawab moral. 

Dulu, loper membawa koran dengan kaki. Kini, kita membawa informasi dengan jari, namun beban etiknya tetap sama.  Selamat Hari Pers Nasional 9 Pebruari 2026 (*)


 

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Dilihat 153 Kali.